Dapatkan notifikasi artikel terbaru via email Follow Us!

Muhammadiyah Kiri: Haji “Merah” Misbach yang Terlupakan

Al-Mujaddid

 

Sumber : tirto.id


Penulis : Diki Ramadhan

(Ketua Bidang Riset & Pengembangan Keilmuan PC IMM Kab. Cirebon)

 

Saat bicara soal Muhammadiyah, sudah bisa dipastikan akan muncul beberapa nama dan tokoh, Kiai Dahlan misalnya, bagaimana tidak? Sudah sewajarnya nama beliau menjadi pokok pembahasan karena memang Muhammadiyah lahir dari ide cemerlangnya, atau yang lain misalnya Ki Bagus Hadikusumo, tentu nama tersebut tidak akan asing di telinga warga Muhammadiyah dan masih banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya. Tapi, apakah nama Haji Misbach pernah terlintas di benak para Muhammadiyyin? Dan siapa sebenarnya Haji Misbach yang mendapat julukan Haji Merah tersebut? Silakan dibaca hingga selesai.

Selayang Pandang Haji “Merah” Misbach

Nama kecilnya Achmad, kemudian ia mengubah namanya menjadi Mohammad Misbach selepas naik haji, lahir di Kauman Yogyakarta dan juga seorang juragan batik. Setidaknya ia terkenal di kawasan Solo dan sekitarnya karena berhasil memprovokasi massa untuk melakukan demonstarsi dan kerusuhan, dia juga berhasil mengumpulkan dan mengorganisir pemogokan kaum buruh saat itu, menyabotase rel kereta api hingga terlibat pada pembakaran bangsal Keraton Solo.

Dalam perjalanannya, Haji Misbach adalah seorang komunis yang menolak menjadi ateis, baginya Islam dan komunisme tidak harus dipertentangkan, justru dengan paham komunisme Islam menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan. Meski ia dari golonga kiri, namanya pun tertutupi oleh nama-nama lain, Semaun, Tan Malaka atau golongan kiri lainnya. Lalu, apa yang membuatnya berbeda dari tokoh kiri lainnya selain ia beragama dan tidak ateis?

Keluarga, teman dekat dan kondisi sosial politik kala itu menjadikan Misbach sebagai tokoh revolusioner yang lahir dari keluarga yang tergolong pejabat Muslim di Keraton Solo, bahkan Misbach kecil pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren. Dia juga bersekolah di Bumiputra kelas II selama delapan bulan. Rupanya, bangku sekolah telah mengenalkannya pada dunia intelektual dan pergerakan. Ia pun tertarik. Setelah dewasa, Darmodiprono yang telah sukses berbisnis kain batik senang berkumpul dan berdialog dengan tokoh-tokoh pergerakan. Setelah menunaikan ibadah haji, ia pun semakin mantap menempuh jalur pergerakan sebagai medan perjuangan.

Langkah pertamanya dalam memasuki dunia pergerakan yakni dengan cara masuk ke Indische Journalisten Bond (IJB), organisasi pers Bumiputra pertama yang didirikan oleh seorang bernama Mas Marco Kartodikromo tahun 1914. Melalui surat kabar Doenia-Bergerak telah banyak melahirkan jurnalis-jurnalis andal, Haji Misbach salah satunya. Melalui IJB inilah ruang relasi semakin terbuka baginya, sampai ia berkenalan dengan Haji Fachrodin dari Kauman, Yogyakarta. Kebetulan, keduanya sama-sama pedagang batik. Keduanya juga sama-sama berasal dari keluarga pejabat Keraton. Sama-sama berasal dari Kauman, tetapi beda tempat. Kedua putra Kauman (beda tempat) ini bersama-sama menerbitkan majalah Medan-Moeslimin (1915) dan Islam Bergerak (1917) sebagai corong perlawanan atas penindasan kolonial Belanda.

Tak tanggung-tanggung, keduanya menempatkan sosok Khatib Amin Yogyakarta sebagai salah satu kontributor Medan-Moeslimin yang namanya terpampang jelas di sudut kiri atas majalah, Khatib Amin yang dimaksud adalah Kiai Ahmad Dahlan. Tak hanya berhenti di sana, Misbach juga kemudian mengikuti organisasi SATV singkatan dari Sidik Amanah Tableg Vathonah –ejaan asli-, dengan tujuan memajukan umat Islam dan membela kaum lemah nan tertindas, sebab Misbach tak rela kaum Muslim selalu terbelakang dan kalah bersaing dengan para cukong Belanda serta pengusaha China yang sewenang-wenang. Ia juga muak kepada para pejabat Keraton yang hanya menjadi “tukang palak” rakyat jelata.

Kemudian, dari forum pengajian agama di rumahnya, muncul gagasan membentuk semacam perkumpulan sekalipun belum bisa dikatakan sebagai sebuah organisasi. Akan tetapi, program-program SATV sistematis dan nyata. Misalnya, menerbitkan majalah, menyelenggarakan pengajian, bahkan mendirikan sekolah Islam. Akhirnya, Haji Misbach, Koesen, Harsoloemekso, dan Darsosasmito berhasil membentuk perkumpulan SATV dengan program monumentalnya menerbitkan majalah Medan-Moeslimin pada tahun itu juga. Selang dua tahun berikutnya, perkumpulan ini menerbitkan majalah Islam Bergerak. Misbach makin lengket saja dengan Fachrodin ketika menerbitkan kedua majalah ini. Bahkan, sosok Kiai Dahlan ditempatkan sebagai kontributor resmi Medan-Moeslimin untuk wilayah Yogyakarta. Kontributor wilayah Solo diisi oleh Haroen Rasid. Seorang redaktur bernama Moechtar Boechari juga terpampang namanya di halaman cover majalah ini.

Retaknya Hubungan Misbach dan Muhammadiyah

Keretakan dimulai kala Misbach mendekap di penjara karena diduga menjadi dalang kerusuhan dan pemogokan buruh tebu di Klaten. Setelah keluar ia pindah ke Pekalongan yang kemudian banyak melakukan diaolog dengan para tahanan lain yang kebanyakan para aktivis dan propaganda ISDV, di stiulah semangat dan haluan politik Misbach mengalami perubahan drastis, semangat revolusionernya bersamaan dengan jalan Marxismenya bertemu. Keluar dari penjara, Misbach mengambil alih kepemimpinan Medan-Moeslimin dan Islam Bergerak yang sebelumnya di bawah kendali Fachrodin. Telah terjadi perdebatan sengit antara dua kawan akrab ini. Kawan lawan kawan, tetapi tak ada yang keluar sebagai pemenang.

Perdebatan itu berakhir dengan pilihan bahwa masing-masing akan menempuh prinsip dan jalan hidup sendiri-sendiri. Sampai tahun 1922, jajaran redaksi Medan-Moeslimin dan Islam Bergerak telah didominasi oleh orang-orang yang sehaluan dengan politik Misbach. Orang-orang Muhammadiyah dan simpatisannya tersingkir dari kedua majalah ini. Perdebatan sengit antara Misbach dengan orang-orang Muhammadiyah tampaknya berlanjut sampai mimbar. Di panggung pengajian SATV, Misbach menyerang Muhammadiyah dan tokoh-tokohnya. Tak cukup dengan pidato, ia menggunakan Medan-Moselimin dan Islam Bergerak untuk menyerang Muhammadiyah.

Kegeraman Misbach bertambah ketika orang-orang dekat Tjokroaminoto menyuarakan disiplin partai, yakni melarang anggota SI merangkap keanggotaan organisasi lain. Ada beberapa anggota SI, terutama dari cabang Semarang, yang terindikasi merangkap anggota Perserikatan Komunis Hindia atau PKH (Boon Kheng Cheah, From PKI to the Comintern, 1992:7). PKH inilah yang kelak berganti rupa menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Misbach saat itu merapat ke SI cabang Semarang bersama Semaoen, Darsono, dan lainnya, setelah dikecewakan TKNM dan CSI. Polemik internal SI ini berpuncak ketika Darsono menyerang Tjokroaminoto dengan menuduhnya telah menyalahgunakan uang organisasi.

Kasus tersebut yang berbeda dengan perkara sebelumnya terkait dugaan Tjokroaminoto telah menggelapkan dana TKNM. Darsono melalui surat kabar milik SI Merah, Sinar Hindia, pada edisi 6, 7, dan 9 Oktober 1920 juga mengkritik posisi rangkap Tjokroaminoto yang selain sebagai ketua juga menjadi bendahara CSI. Dengan mantap, Misbach berdiri di belakang Darsono hingga akhirnya orang-orang SI cabang Semarang terdepak dari CSI dan membentuk SI Merah yang nantinya melebur dengan PKH menjadi PKI. Misbach memang dikenal sebagai tokoh Islam yang juga menganut ajaran komunisme. Dalam Kongres SI Merah di Jawa Barat pada Maret 1923, dalam orasinya Misbach melancarkan serangan terhadap Tjokroaminoto dan Muhammadiyah. Kedekatan Muhammadiyah dengan CSI membuat Misbach berang hingga menyebut perhimpunan yang bermarkas di Yogyakarta itu sebagai antek kapitalis dan turut terlibat dalam dugaan penggelapan uang CSI.

“… Sekarang, kita semua tahu, bahwa Muhammadiyah adalah perkumpulan kapitalis dan sangat dipengaruhi oleh kapital,” ujar Misbach seperti terdapat dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1997:362) karya Takashi Shiraishi. “Yang juga sangat aneh bahwa CSI telah bersekongkol dengan Muhammadiyah... Ketika Darsono mulai melakukan kampanye publik melawan kebijakan CSI, markasnya cepat-cepat harus dipindah dari Surabaya ke Yogyakarta (kota yang juga menjadi pusat Muhammadiyah),” sebut Misbach dalam pidatonya. “Dan yang luar biasa mengejutkan adalah fakta ketika penghitungan keuangan dilakukan, uang yang dibutuhkan ditemukan dalam rekening SI (yang diduga berasal dari bendahara Muhammadiyah),” tambahnya.

Satu per satu tokoh-tokoh Muhammadiyah menjadi objek sasaran kritik tajam dari Haji Misbach dan kubu Merah. Kiai Ahmad Dahlan dituduh sebagai rentenir, karena terlibat dalam skandal hutang Perserikatan Pegawai Pegadaian Bumiputra (PPPB) pada tahun 1922. Haji Fachrodin dituduh sebagai tokoh munafik dan penipu. Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah dianggap telah menjadi agen kapitalis. Konon, pada saat itulah Misbach keluar dari Muhammadiyah. Dengan semangat berapi-api, Misbach datang ke Rapat Tahunan Muhammadiyah 1923 di Yogyakarta menyampaikan usulan (vorstel) agar Muhammadiyah mengubah haluan organisasi menjadi partai politik pergerakan layaknya SI (Soewara Moehammadijah, no 5 & 6, Mei & Juni 1923). Akan tetapi, Djojosoegito dalam catatan notulen Rapat Tahunan Muhammadiyah 1923 menyebutkan bahwa “Haji Misbach itu bukan sekutu Muhammadiyah.”

Tak lama setelah menyerang Muhammadiyah, Haji Misbach ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dan dibuang ke Manokwari (1923). Majalah Medan–Moeslimin dan Islam Bergerak sudah sulit terbit. Dalam Medan Moeslimin edisi 15 Juli 1924, keterangan di box redaksi, selaku pengarang yang bertanggungjawab di muka hakim: Haroen Rasid. Selaku pengurus: Sjarif. Selaku pembantu yang khas: Nasurdin (guru bahasa Melayu di Penang). Haji Misbach sebagai ketua, dalam keterangan, masih dalam bui (Manokwari). Rupanya, sekalipun Misbach telah keluar dari Muhammadiyah, ternyata ia tetap menjadi pelanggan majalah Suara Muhammadiyah. Firma Abdullah Lie adalah nama yang menyuplai kebutuhan Misbach selama di Manokwari.

 

Sumber

Iqbal Setyarso, “Haji Misbahc, Kiai Merah”, dalam ugm.ac.id, Agustus 2000.

Iswara Raditya, “Ketika Haji Misbach Menyerang Muhammadiyah”, dalam Tirto.id, November 2022.

M. Amin Eli, “Muhammadiyah Maluku: Hasil Penyemaian Kyai Misbach”, dalam Suara Muhammadiyah, 1981.

Mu’arif, “Haji Merah dan Muhammadiyah”, dalam Suara Muhammadiyah, April 2016.

Takashi Shirashi, “Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa”, 1912-1926.

Taufik Rahzen, “Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia”, 2007.

Posting Komentar

Cookie Consent
Kami menyajikan cookie di situs ini untuk menganalisis lalu lintas, mengingat preferensi Anda, dan mengoptimalkan pengalaman Anda.
Oops!
Sepertinya ada masalah dengan koneksi internet Anda. Harap sambungkan ke internet dan lanjutkan menjelajah.
AdBlock Detected!
Browser anda terdeteksi mengaktifkan adblock. Pendapatan kami dari iklan pada website ini. Tolong support kami dengan mematikan adblock.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.