![]() |
| Oleh: Dinda Novita (Mahasiswa Ilmu Al Qur'an dan Tafsir UMC ) |
Antara Wahyu dengan Filsafat
Dalam kaitan integrasi yang menarik adalah
pandangan Al-Kindi berbeda dengan pandangan Ibnu Tufail, perbedaannya terletak
pada konsen teoritiknya. Al-Kindi mengakui bahwa agama dan filsafat adalah dua
hal yang berbeda baik dilihat dari aspek sumbernya maupun metodenya. Filsafat berasal
dari pengetahuan diskursif sementara agama berasal dari pengetahuan wahyu.
Tapi, kedua-duanya punya tujuan tertinggi yaitu ingin mencapai kebenaran. Agama
ingin mencapai kebenaran ilahi, filsafat juga ingin mencapai kebenaran ilahi.
Kebenaran ilahi yaitu kebenaran yang terkait dengan Allah SWT. Jadi Al-Kindi
ingin memperjumpakan agama dan filsafat letak teoritiknya itu pada akhir tujuan
dan tidak pada metodenya.
Jadi kalau metode tidak bisa di persatukan,
sumbernya pun juga tidak bisa di persatukan, karena wahyu itu sumbernya
langsung dari Allah SWT dan metodenya adalah metode direct experience of
revelation (pengalaman langsung pemwahyuan), sementara itu kalau filsafat
sumbernya bisa apa saja bisa empiris, rasional karena disitulah maka melahirkan
pengetahuan diskursif yang di cari dan di lihat yang di capai. Namun dua-duanya
ingin mencari kebenaran ilahi. Jadi agama dan filsafat itu bertemu pada puncak
pencapaian yang berbeda adalah metode dengan sumbernya. Agama mencapai
kebenaran melalui sumber wahyu, sedangkan filsafat mencapai kebenaran melalui
nalar atau renungan filosof.
Ada contoh lain misalnya seperti Ibnu Tufail, Ibnu Tufail ini fokus pada watak yang ada pada wahyu dan filsafat. Jadi watak bawaan filsafat dan agama itu mirip yaitu sama-sama mencari kebenaran. Karakter wahyu dan karakter filsafat itu lebih mengarah kepada karakter yang memang ingin mencapai kebenaran. Kemudian Abu Sulaiman Al-Jistani beliau mengatakan bahwa “Agama dan filsafat adalah dua hal yang memang berbeda, agama bersumber dari wahyu sedangkan filsafat bersumber pada rasio, tujuan keduanya juga tidak sama, tujuan agama adalah mencapai kebahagiaan batin sedangkan filsafat adalah mencapai kepuasan intelektual”. Tapi keduanya bisa di perdamaikan dengan cara tetap pada pada posisinya masing-masing , tanpa harus di satukan dan di integrasikan. Jadi filsafat dengan filsafat, agama dengan agama sehingga kedua-duanya bisa jalan beriringan pada diri seseorang dan bisa jalan seiringan.
Metode-metode Pendekatan Ilahiah
Bagi Ibnu 'Arabi yang penting itu di metode
dan cara kita melihat objek pengetahuan, Ibnu Arabi menyatakan “metodenya
itu tidak boleh diskursif, baik filsafat maupun agama, metodenya harus metode
sufistik, metode refleksi batin, metode mukasyafah”. Sehingga di situ objek
apapun kalau di lihat dari sudut pandang itu maka yang muncul adalah refleksi
ilahiah. Misalnya objek apapun dengan metode mukasyafah kita melihat kucing
belang-belang baru lahir, dengan sudut pandang mukasyafah maka kita akan
membangkitkan kesadaran tentang betapa luar biasanya ada kucing seperti itu.
Melihat kejadian-kejadian faktul misalnya
kita sedikit-sedikit kecewa karena tidak sesuai dengan ekspektasi, dengan sudut
pandangan mukasyafah dari melihat perspektif agama dan perspektif filsafat itu
sama-sama dengan perspektif mukasyafah tadi, jadi metode filsafat dan agama itu
aslinya sama yang membedakannya tidak ada, tidak ada itu maksudnya kalau kita
terlalu fokus pada filsafat yang diskursif dan agama yang diskursif, jadi agama
dan filsafat kalau dia menggunakan pendekatan yang diskursif atau pendekatan
rasional, maka dia tidak akan bisa mencapai kebenaran abadi.
Sehingga filsafat dan agama bisa di
perjumpakan ketika mereka memiliki metode yang sama yaitu metode mukasyafah,
soal sumbernya di Al-Qur’an itu meskipun proses perolehannya dengan melalui
wahyu tapi sejatinya di dalam Al-Qur’an itu juga banyak hal-hal yang sifatnya
empiris dan orang ketika melihat sesuatu yang empiris itu jika dengan
menggunakan pendekatan filsafat diskursif atau agama yang diskursif itu tidak akan ketemu. Contoh, misalnya kita melihat jika menggunakan pendekatan 'Arabi
bahwa ayat Al-Qur’an itu diksinya itu sangat-sangat konsisten, tinggal sekarang
metodenya apa. contoh di surah An-Nahl “Yumbitu lakum bihiz-zar’a waz-zaituna
wan-nakhila wal-a’naba wa ming kullis-samarat, inna fi zalika laayatal liqaumiy
yatafakkarun”.
Al-Qur’an merupakan objek yang diksinya
menggunakan tafakar itu mesti objek yang bisa di indra, sehingga berpikir itu
membutuhkan proses indrawi. Sementara jika yang menggunakan diksi lain seperti
diksinya yang bersifat matematis dan rasional. Contohnya, “Wa sahkhara
lakumusy-syamsa wal qamara daibain, wa sahkhara lakumul-laila wan-nahar”.
Tentang pergantian siang malam, matahari beredar, kemudian dan seterusnya, nah
itu sejatinya semuanya adalah pakai akal. Maka diksi Al-Qur’an itu menggunakan “Inna
fii dzalika laayati liqaumiy yatafakkarun”. Jadi Ibnu 'Arabi kemudian
mengintegrasikan pada metodenya bahkan pada sumbernya, jadi metodenya harus
sama.
Kemudian kalau Ibnu Rush yaitu bahwa
integrasinya itu pada aspek tematik sekaligus pada aspek metodisnya, jadi joint
metode agama dan sains itu bisa di lakukan caranya adalah dengan metode sains yang
di dalamnya yakni membutuhkan pendekatan burhani, dialektikik atau jadali,
retorik atau khutobi nah itu masing-masing juga bisa di lahirkan dari agama dan
juga bisa di lahirkan dari filsafat, artinya filsafat obejeknya agama juga
objeknya wahyu juga bisa menjadi objek jadi perjumpaan itu pada objek sama
metodenya, objek bisa apa saja termasuk teks dan teks itu tidak tertulis saja.
Termasuk “Ayatullah fil alamin” (ayat-ayat Allah di alam semesta) itu
bisa menjadi objek disitu kata Ibnu Rush “Kita bisa mengintegrasikan antara
wahyu dan filsafat”.
Pada maqosidnya tentang Ibnu Rush bahwa
sesuatu hal yang secara rasional bisa di saksikan dan sesuatu hal yang secara
wahyu bisa di buktikan lewat wahyu tekstualnya dan di dalam wahyu itu ada
konteks maka di situ ada perjumpaan, artinya bisa menggunakan pendekatan
burhani, jadali. Sehingga kata Ibnu Rush bahwa kita itu dalam mencoba
mengintegrasikan Al-Qur’an dan sains atau filsafat dan agama itu sama seperti
Al-Kindi yaitu bertemu pada tujuan akhir.
Kesimpulan
Bahwa integrasi itu harus bersifat kuantum,
dua-duanya harus saling terbuka, mengembangkan dirinya, mendialogkan hasil
penelitiannya. Sehingga kadang agama perlu mendekat ke filsafat, filsafat juga
perlu mendekat ke agama jadi saling membuka diri, itulah yang dalam konstan
interpretasi kuantum, metode filsafat harus berkembang metode agama pun juga
harus berkembang, isi dari bahasa agama harus berkembang sesuai dengan tradsi
kontemporer dan begitulah dengan filsafat, di situ kemudian bisa saling mengisi
dan saling mendekat.

