Dapatkan notifikasi artikel terbaru via email Follow Us!

TOLERANSI TERHADAP PERILAKU LGBT DALAM PERSPEKTIF ISLAM


 Jika berbicara tentang budaya toleransi tentunya hal itu pasti sangat tidak asing ditelinga kita dimana budaya toleransi saat ini sedang digaungkan bahkan diperjuangan oleh seluruh elemen masyarakat baik itu publik figure, pegiat sosial media, para tokoh agama maupun kaum intelektual ataupun kalangan akademisi. Mungkin kita perlu sedikit menyelisik tentang apa itu budaya toleransi? Seperti yang pernah dikatakan oleh ahli sejarah Max Isaac Dimont, bahwa sejatinya toleransi adalah sikap untuk mengakui perdamaian dan tidak menyimpang dari norma yang diakui dan berlaku bisa juga diartikan sebagai sikap menghor- mati dan menghargai setiap Tindakan orang lain, sedangkan definisi dari budaya itu sendiri merupakan sesuatu yang sangat melekat pada suatu peradaban manusia. Kebudayaan sendiri bisa kita identifikasi karena budaya bersifat dinamis, universal, selektif, etnosentrik, dan adaptif.

Seperti yang sudah kita ketahui Bersama, bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. Menurut sensus BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2010, terdapat 1.340 suku di Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara indonesia. Sehingga dengan keberagaman suku dan perbedaan yang ada, tentunya sangat diperlukan sebuah sikap yang berfungsi sebagai pemersatu perbedaan tersebut agar keutuhan NKRI tetap selalu terjaga, yaitu dengan bersikap tenggang rasa atau toleran. Toleransi adalah solusi bagi permasalahan suatu negara yang masyarakatnya beragam baik itu perbedaan suku, agama, ras, dan etnis bahkan fisik. Namun, menanamkan nilai- nilai toleransi ini kian sulit mengingat masih banyaknya kelompok yang menutup diri terhadap suatu cara berpikir baru atau biasa dikenal jumud. Padahal, di zaman era digital dan serba canggih ini, kita dituntut untuk berpandangan bahwa dunia ini begitu luas, tidak hanya berisi kita dan kelompok kita. Dalam rangka menumbuhkan sikap toleransi ini, perlu dimulai dari individu diri kita masing-masing terlebih dahulu. Karena sebuah perubahan yang besar, tentunya dimulai dari hal yang terkecil.

Mungkin saja ada banyak cara yang dapat kita aktualisasikan agar kita mampu menumbuhkan sikap tenggang rasa atau biasa dikenal dengan sikap toleran. Mengenali (identitas) jati diri sendiri merupakan cara pertama yang mungkin perlu kita lakukan. Sebab dengan hal itu, kita akan mampu memahami secara utuh tentang kapasitas diri kita. Dan ketika kita sudah sangat memahami jati diri kita secara utuh, secara tidak langsung kita akan mudah open mind dalam memahami perbedaan dengan orang lain baik itu perbedaan keyakinan, suku, etnis, paradigma, ideologi, bahkan fisik sekalipun kita tidak akan mudah mendiskriminasi perbedaan.

Dalam menerapkan sikap toleransi, jangan sampai kita berpikir secara jumud atau sempit dalam memahami suatu hal. Karena makna toleransi itu sendiri merupakan sesuatu yang bersifat sangat luas. Namun, tentunya kita pun perlu memahami rambu-rambu (koridor) atau batasan dalam bersikap toleransi, sehingga kita tidak akan melampaui batasan yang telah digariskan dalam Islam.

Dalam Islam, toleransi itu dikenal dengan istilah tasamuh atau biasa kita kenal dengan tenggang rasa. Maknanya adalah bahwa sikap toleransi atau sikap tenggang rasa merupakan sikap untuk menghargai dan menghormati suatu perbedaan antar- sesama manusia baik perbedaan antarkelompok maupun induvidu manusia. Islam merupakan agama yang diridhai oleh Allah Azza Wajalla karena Islam berada di posisi tengah-tengah, moderat, lurus, dan toleran terhadap sesama manusia.

Meskipun Islam sendiri sangat menjunjung tinggi toleransi, penghargaan yang diberikan Islam hanya sebatas urusan muamalah atau hubungan sesama manusia. Toleransi Islam tidak sampai ke ranah penyimpangan ataupun akidah dan keimanan yang dianut. Ketika ada umat muslim yang bersikap tasamuh atau toleran sampai ke ranah akidah atau keyakinan dan segala bentuk perilaku penyimpangan itu sudah sangat melampaui batas dari koridor ajaran Islam. Bahkan, kenya- taannya esensi dari toleransi itu sendiri sering kali disalah- artikan oleh Sebagian umat Muslim baik di Indonesia maupun di penjuru dunia.

Sehingga, banyak dari mereka menghargai bahkan ada yang mendukung perilaku penyimpangan tersebut dengan mengatasnamakan toleransi dan HAM, bahkan kekeliruan ini telah menjamur sampai ke dunia sepak bola, Faktanya Federasi Sepak Bola Internasional (Dunia) atau FIFA secara terang- terangan mengecam dan mengintervensi tuan rumah Piala Dunia 2022, yaitu Qatar untuk tidak menolak pasangan LGBT, tentunya hal ini sangat bertentangan dengan hukum lokal di Qatar di mana perilaku homoseksualitas merupakan perilaku yang ilegal disana. Sehingga fenomena itu sungguh menciderai esensi atau makna dari toleransi, bahkan telah melampaui batas rambu- rambu ajaran islam.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Sungguh, kamu yang telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar- benar kaum yang melampaui batas." (QS Al-A'raf 7: Ayat 81).

Pada akhirnya kita sebagai Muslim dituntut untuk bisa menghargai perilaku penyimpangan yang mungkin sudah menjamur ke seluruh penjuru dunia. Menurut Dinas Kesehatan kabupaten Cianjur tercatat ada 551 kasus pengidap HIV/AIDS dalam kurun waktu 2019-2022. Tercatat ada 228 orang atau nyaris 50 persen diantaranya akibat perilaku LGBT. Tentunya kenyataan ini menjadi pukulan telak bagi kita semua sebagai seorang muslim di mana perilaku keji itu belum mampu dicegah.

Lalu, Solusi Apa yang Perlu Islam Berikan?

Tentunya, Islam harus mampu hadir menjadi solusi yang solutif dalam menjawab setiap tantangan zaman, Kita sebagai umat muslim sangat perlu menumbuhkan kesadaran kolektif dalam hal ini. Minimal dimulai dari menumbuhkan kesadaran induvidu diri kita sebagai umat muslim dengan cara melek akan konse- kuensi perilaku LGBT. Sehingga kita bisa menyadari bahwa setiap perilaku penyimpangan itu justru mencederai bahkan merusak hakikat manusia itu sendiri yang tidak bisa untuk ditoleransi, bahkan secara medis perilaku penyimpangan seperti LGBT ataupun homoseksualitas lebih rentan terkena penyakit HIV, yaitu virus yang akan menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.

Karena sifatnya retrovirus, virus HIV ini bisa berkembang biak dan menggandakan diri dalam sel tubuh manusia yang mengidapnya, virus HIV juga sudah dikenali sejak 1950-an dan bahkan hingga saat ini belum ada obat yang mampu menghentikan infeksi dari virus ini jika hal ini terus dibiarkan pengidapnya akan berpotensi terkena penyakit AIDS.

Dan mungkin ada beberapa alasan yang bisa menjadi asbab tingginya resiko HIV pada perilaku penyimpangan LGBT atau homoseksualitas. Alasan-alasan tersebut tentunya begitu sangat beragam, mulai dari faktor biologis, gaya hidup, dan sosial. Hubungan melalui dubur atau Seks anal selalu menjadi pilihan yang sangat umum bagi para pasangan gay atau homoseksualitas, meskipun banyak juga pasangan beda jenis atau heteroseksualitas yang memilih hubungan seks anal atau hubungan melalui dubur meskipun hal itu diharamkan oleh agama Islam.


Jika kita merujuk pada penelitian yang pernah dimuat dalam International Journal of Epidemiology telah mengung- kapkan bahwa tingkat risiko penularan HIV melalui hubungan seks anal atau hubungan seks melalui dubur 18 persen lebih besar dibandingkan hubungan seks melalui alat vital atau kemaluan. Dan Realitas ini perlu kita sadari bersama bahwa Allah pun melaknat perilaku tersebut. 


Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (No. 2915) dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth atau kaum Sodom, beliau sampaikan sampai tiga kali.” (Dihasankan Syaikh Syu’aib Al-Arna`uth).
Dalam hadis lain Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth atau Kaum Sodom, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” (HR Tirmidzi dan yang lainnya, disahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Ketika kesadaran ini mulai tumbuh secara kolektif atau berjama’ah maka kita pun pasti mampu meminimalkan bahkan bisa memutuskan rantai segala bentuk perilaku penyimpangan yang marak di sekitar kita. 

Wallahu’alam bishawwab.

Posting Komentar

Cookie Consent
Kami menyajikan cookie di situs ini untuk menganalisis lalu lintas, mengingat preferensi Anda, dan mengoptimalkan pengalaman Anda.
Oops!
Sepertinya ada masalah dengan koneksi internet Anda. Harap sambungkan ke internet dan lanjutkan menjelajah.
AdBlock Detected!
Browser anda terdeteksi mengaktifkan adblock. Pendapatan kami dari iklan pada website ini. Tolong support kami dengan mematikan adblock.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.