Dapatkan notifikasi artikel terbaru via email Follow Us!

PENDIDIKAN SEKSUALITAS SEBAGAI LIFESTYLE GENERASI MUDA MEMBANGUN PERADABAN

Seks Edukasi

 

Oleh : Slamet Sukmawijaya
(Mahasiswa ilmu Al-Qur'an & Tafsir UMC)


“Barangsiapa yang sengaja tidak mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya dan meninggalkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan suatu kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan datang dari sisi orang tua yang meninggalkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban- kewajban dalam agama berikut sunah-sunahnya.” –Ibnul Qayyim al-Jauziyah.

Kurangnya pemahaman anak mengenai seksualitas membuat anak menjadi mangsa para predator seksual yang ada di sekitar mereka. Meningkatnya kasus kekerasan, penyimpangan, ketidakberdayaan, bahkan sampai hal-hal yang jelas bertentangan dengan agama seperti LGBT dan sebangsanya merupakan bukti nyata kurangnya pengetahuan anak mengenai seks yang seharusnya sudah mereka pahami sejak usia dini. Awalnya, LGBT  hanya diartikan pada kelompok transgender dan homoseksual. Namun, saat ini LGBT menjadi singkatan yang melingkupi orientasi seksual dan identitas gender umumnya ada di masyarakat.

Penyimpangan seksual yang semakin berkembang di masyarakat adalah sebuah fenomena sosial yang tidak hanya berdampak buruk terhadap anak-anak dan remaja yang menginjak usia pubertas, tetapi penyimpangan ini juga akan berdampak juga pada orang dewasa. Penyebab utama terjadinya penyimpangan ini yaitu dimulai dari kesalahan pengasuhan dan penyebab lain, di antaranya:               


1.   Lingkungan dan Pergaulan

       Lingkungan merupakan aspek yang dijadikan kebiasaan seseorang dalam bergaul, hal ini juga menjadi penyebab terhadap keputusan seseorang untuk mengambil keputusan. Masuknya budaya dari luar negeri dapat mengubah pola pikir sebagian besar masyarakat sehingga terjadilah pergeseran norma-norma susila yang dianut oleh sebagian masyarakat. sebagai contoh adalah perilaku seks yang menyimpang seperti seks bebas maupun seks dengan sesama jenis atau yang lebih dikenal dengan istilah LGBT.

2.       Faktor Akhlak dan Moral

 Guru, keluarga dan teman sebaya akan sangat memenga-ruhi pembentukan akhlak dan moral seseorang. Moral dan akhlak yang ada pada diri seseorang bisa menjadi faktor risiko seseorang terkena perilaku LGBT. Orang-orang yang memiliki akhlak dan moral yang rendah maka akan cenderung kepada penyimpangan, salah satunya LGBT. Membangun karakter anak dan akhlak yang baik, tanggung jawab utamanya adalah dari orang tua dan gurunya. Membangun karakter bukanlah pekerjaan yang ringan, selain pendidik harus mengetahui nilai- nilai moral yang baik, juga kondisi lingkungan harus kondusif (mendukung).

3.       Berkembang Pesatnya Era Digitalisasi

 Berkembangnya era digitalisasi memberikan dampak positif dan negatif, terutama pada usia anak muda. Hal ini memberikan dampak negatif seperti maraknya penyebaran informasi dan video pornografi dengan sangat mudah terakses. Selain itu, para aktivis LGBT juga memanfaatkan kecaggihan teknologi berupa internet untuk menyebarkan prilakunya. Hal ini yang membuat tidak sedikit orang melakukan penyimpangan terhadap orientasi seksualnya karena terkena kampanye dari kaum LGBT.

4.       Kurang Siapnya Menjadi Orang Tua

Kebanyakan orang tua berharap besar kepada anaknya untuk menjadi seorang yang sukses dalam menjalani kehidupan yang berfokus pada materi dan belum sepenuhnya menyiapkan anak untuk menjadi ayah dan ibu atau sebagai calon orang tua. Didikan yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya memiliki peranan yang penting bagi para anak kedepan untuk lebih cenderung menjadi seorang anggota LGBT daripada hidup normal layaknya orang yang lainnya, selain itu orang tua masih sering beranggapan bahwa membicarakan masalah yang menyangkut seksual dengan anak-anak mereka adalah suatu hal yang tabu, padahal hal ini justru bisa mendidik anak agar bisa mengetahui perihal seks yang benar dan menjauhkan penyimpangan seksualitas.

        5.      Kurangnya Parenting

 Membesarkan, mendidik dan mebimbing anak bukanlah hal yang mudah, terjadinya kekeliruan orang tua dalam menerapkan pola asuh dapat memengaruhi perilaku anak pada kemudian hari. Kurangnya pendidikan agama dan masalah seksual dari orang tua kepada anak-anaknya yang dapat menjerumuskan pilihan hidup yang salah. Oleh sebab itu, sangat penting generasi muda sebagai calon orang tua mempelajari parenting yang bertujuan untuk mengatur pola pengasuhan dalam proses tumbuh kembang anak.

Sampai saat ini pendidikan seksualitas dan parenting masih menjadi hal yang tabu bagi orang tua dan calon orang tua untuk dibicarakan bersama keluarga dan lingkup sosial masyarakat, hal ini yang harus dibenahi untuk menambahkan wawasan baru untuk menghindari penyimpangan isu gender sejak dini.

Generasi muda sebagai agent of change dan juga sebagai calon orang tua mempunyai peran penting untuk melakukan preventif terhadap penyimpangan seksualitas yaitu pasangan muda diharapkan dapat merumuskan tujuan pernikahan dan pola asuh sehingga terjadi komunikasi baik antar generasi, menjadikan parenting dan pendidikan seksual sebagai salah satu lifestyle untuk mempersiapkan generasi selanjutnya, mampu memperbaiki dan memutuskan rantai luka pengasuhan yang salah serta dapat membangun peradaban yang kokoh.

1 komentar

  1. Keren cuy
Cookie Consent
Kami menyajikan cookie di situs ini untuk menganalisis lalu lintas, mengingat preferensi Anda, dan mengoptimalkan pengalaman Anda.
Oops!
Sepertinya ada masalah dengan koneksi internet Anda. Harap sambungkan ke internet dan lanjutkan menjelajah.
AdBlock Detected!
Browser anda terdeteksi mengaktifkan adblock. Pendapatan kami dari iklan pada website ini. Tolong support kami dengan mematikan adblock.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.