Dapatkan notifikasi artikel terbaru via email Follow Us!

Mana Pendosa Hebat, Manusia atau Iblis?

Penolakan iblis untuk sujud pada Adam.
Al-Mujaddid

 

Sumber : https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fbawuran.id%2Fartikel%2F2018%2F1%2F19%2Fsujud&psig=AOvVaw1wv6m4X6JHWSYuMQOaF6w6&ust=1735025285551000&source=images&cd=vfe&opi=89978449&ved=0CBQQjRxqFwoTCKj5wrqwvYoDFQAAAAAdAAAAABAE

Penulis : Diki Ramadhan

(Ketua Bidang Riset & Pengembangan Keilmuan IMM Kab. Cirebon)

 

Hanya karena iblis tak ingin sujud pada Adam, lalu dia dianggap sebagai pendosa hebat, benarkah begitu? Atau itu hanya doktrin orang tua kita saja ketika menjelaskan sosok iblis? Perlu dicatat bahwa tauhid iblis sangatlah kuat saat itu, dia hanya tunduk pada Allah dan tidak ingin sujud pada selain-Nya, tetapi iblis salah menafsirkan maksud Allah tersebut tentang perintah sujud kepada Adam, justru itu bentuk ujian dari Allah kepada iblis dan malaikat, apakah mereka menjadi hamba Allah yang benar ketaatannya.

Lebih Iblis Mana Antara Manusia atau Iblis Itu Sendiri?

Dalam pembukaan tulisan ini, rasanya pembaca merasa kaget dengan pernyataan yang dibuat oleh penulis, sebab penulis seolah membela iblis dengan kesombongan dan keangkuhannya, maka agar tak salah paham, sepatutnya pembaca harus menuntaskan membaca tulisan ini. Acap kali sebagai seorang pembelajar Al-Quran seperti penulis mendapatkan pikiran-pikiran yang nyeleneh dan menimbulkan pertanyaan tertentu dengan kesadaran penuh. Apakah sebagian manusia (anak Adam) itu pendusta atas pencipta-Nya? Sebab kebanyakan manusia tidak mau, terlalu banyak mikir bahkan mempertanyakan terkait urusan untuk sujud kepada Allah Tuhan semesta alam? Seolah mereka ini pemikir yang begitu mahsyur, merasa luar biasa dengan akalnya, bagi yang tidak masuk akal baginya, tidak iya kerjakan, melakukan sesuatu hanya sesuai nafsunya.

Dengan sifat yang demikian, apakah layak seorang manusia disebut ciptaan Allah paling sempurna? Utamanya dalam kesempurnaan untuk taat kepada Allah, jika memang yang dicari ketaatan, manusia kalah telak pada malaikat, bahkan iblis. Lalu, apa yang membuat kebanyakan manusia itu tak mau sujud kepada Allah? Ketika pertanyaan tersebut muncul, jawabannya hanya satu “karena digoda oleh iblis, sebab iblis telah berjanji untuk senantiasa menggoda manusia”, seolah itu menjadi jawaban pembelaan atas perbuatan sederhana yang tak bisa dikerjakan manusia, sangat ironi.

Sejatinya ketidaktaatan iblis ketika diperintahkan Allah untuk sujud kepada Adam, bukan hanya nilai ketaatan yang ada di sana, tetapi nilai tauhid yang begitu luar biasa yang bisa diambil, ketauhidan iblis tak perlu dipertanyakan, ia enggan sujud kepada makhluk, hanya sujud pada Allah, tetapi kebanyakan manusia sekali lagi tak mau sujud kepada-Nya, yang paling ironis justru manusia banyak menyembah makhluk, kuburan, patung hingga pada benda-benda tertentu yang mereka anggap punya kekuatan super natural.

Keberhasilan Iblis dan Kegagalan Manusia

Berbicara tauhid, sudah tidak bisa diragukan lagi bagaimana kuatnya tauhid iblis, manusia hanya para Nabi dan Rasul saja yang setidaknya dapat menyaingi ketahudian dari iblis tersebut. Sedari zaman Nabi Adam hingga berakhirnya fase kenabian oleh Nabi Muhammad, manusia mulai kehilangan arahnya, banyak yang lalai akan perintah Allah, dan ini bentuk keberhasilan iblis dan kegagalan seorang manusia dalam melawan hal tersebut. Tidak semua keburukan itu lahir dari iblis, sifat bawaan seorang manusia yang mempunyai nafsu kadang kala membuatnya lalai, sifat sombong, angkuh, iri, dengki, sakit hati, dan lainnya, sifat-sifat itu tidaklah murni dari iblis, tetapi manusia itu sendiri. Allah senantiasa mengingatkan kepada manusia untuk terus berzikir kepadanya, agar nafsu itu bisa terkendali.

Hakikat Iblis

Terdapat dua pendapat para ulama tentang hakikat iblis. Pertama, iblis adalahgolongan jin yang berada di antara beribu-ribu malaikat yang memiliki sifat samaseperti malaikat. Kedua, iblis termasuk dalam golongan malaikat, ini berdalil bahwaperintah sujud disampaikan kepada para malaikat. Ayat ini menunjukkan bahwa iblistermasuk dalam golongan para malaikat. Ini adalah pendapat al-Baghawi dan al-Thabari. Akan tetapi, Ibnu al-Qayyim berpendapat bahwa kedua pendapat tersebut bisadisatukan. Iblis dijadikan rupa yang sama dengan malaikat, meskipun keadannya jelasberbeda. Iblis diciptakan dari api, sedangkan malaikat diciptakan dari cahaya. Ibnu Jarirmeriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, “Iblis tidak termasuk dalam golongan paramalaikat, melainkan dari golongan jin, sebagaimana Nabi Adam adalah asli darigolongan manusia.” Periwayatan ini shahih, demikian juga dikatakan oleh Abdulrahmanbin Zaid bin Aslam.

Memberantas Syirik: Kepada Manusia Penyembah Kuburan

Kegiatan ziarah kubur adalah mengunjungi makam seseorang dengan niat mendoakannya serta mangambil pelajaran bahwa suatu saat nanti kematian akan mengunjungi, dan fungsinya tidak lebih daripada itu. Kebanyakan masyarakat saat ini khususnya di Indonesia, ketika berziarah kepada kuburan tertentu, mereka melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Meminta doa kepada mayit yang ada di dalam misalnya, atau bahkan berzikir kepada sang mayit karena dianggap orang soleh semasa hidupnya, ini ajaran siapa? Bahkan kepada kuburan Rasul pun kita dilarang melakukan hal demikian, karena memang tempat meminta bukan di kuburan tapi hanya kepada Allah semata, fungsi dan tujuan ziarah hanya untuk mengingatkan kita pada kematian dan bersiap untuk menghadapi itu. Buang jauh-jauh kegiatan menyekutukan Allah semacam ini, marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah. Wallahu’alam.

Posting Komentar

Cookie Consent
Kami menyajikan cookie di situs ini untuk menganalisis lalu lintas, mengingat preferensi Anda, dan mengoptimalkan pengalaman Anda.
Oops!
Sepertinya ada masalah dengan koneksi internet Anda. Harap sambungkan ke internet dan lanjutkan menjelajah.
AdBlock Detected!
Browser anda terdeteksi mengaktifkan adblock. Pendapatan kami dari iklan pada website ini. Tolong support kami dengan mematikan adblock.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.